Pemkab Sidoarjo Genjot Pelestarian Budaya, Peserta Festival Gamelan Kahuripan Melonjak Signifikan

3 menit membaca View : 19
admin

SIDOARJO , Waskita.news — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo terus memperkuat komitmennya dalam melestarikan warisan budaya lokal. Melalui ajang tahunan Festival Gamelan Kahuripan, Pemkab Sidoarjo secara aktif mendorong generasi muda untuk mencintai serta mendalami seni karawitan dan tembang tradisional.

Tahun 2026 ini, Festival Gamelan Kahuripan yang telah memasuki penyelenggaraan keempat kalinya mencatatkan lonjakan antusiasme yang luar biasa. Berdasarkan data Dewan Kesenian Daerah (Dekesda) Sidoarjo, ajang ini diikuti oleh 33 grup peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Jumlah tersebut mengalami peningkatan pesat sebanyak 10 grup jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya diikuti oleh 23 grup.

“Alhamdulillah pada tahun keempat ini peserta yang ikut lebih banyak. Artinya, minat generasi muda akan kesenian gamelan ini juga meningkat,” jelas Ketua Dekesda Sidoarjo, Ribut Wijoto, saat memberikan sambutan di Pendopo Delta Wibawa, Sabtu (26/9/2026).

Eksplorasi Pendengaran dan Nilai Filosofis Gamelan

Mengusung tema khusus tahun ini, “Gamelan untuk Meditasi: Eksplorasi Pendengaran melalui Membunyikan Gamelan Jawa”, festival ini dirancang bukan sekadar sebagai panggung kompetisi unjuk kebolehan bermusik. Lebih dari itu, event ini menjadi ruang bagi para pelajar untuk mengeksplorasi gamelan sebagai bagian dari pengalaman belajar seni dan budaya secara mendalam.

Ribut Wijoto mengingatkan kembali bahwa gamelan telah resmi diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian tradisional tersebut tidak hanya menjadi identitas lokal, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap peradaban global.

Selain itu, dalam lintasan sejarah Nusantara, gamelan memiliki rekam jejak historis yang kuat terhadap penyebaran agama Islam di Tanah Jawa, di mana para Walisongo turut memanfaatkan gamelan sebagai sarana dakwah. Secara filosofis, gamelan juga merepresentasikan simbol keharmonisan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta.

Media Pendidikan Karakter dan Penguatan Identitas Daerah

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Ridho Prasetyo, yang hadir mewakili Bupati Sidoarjo Subandi, menegaskan bahwa Festival Gamelan Kahuripan menjadi titik temu yang strategis antara seni, dunia pendidikan, masyarakat, dan generasi muda.

Ia memaparkan bahwa proses belajar dan memainkan gamelan sarat akan nilai-nilai luhur pembentuk karakter peserta didik. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kedisiplinan, kebersamaan, kerukunan, kepekaan indra pendengaran, kemampuan menjaga harmoni sosial, hingga sikap mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

“Warisan budaya bukan hanya menjadi peninggalan harta benda, tetapi harus terus hadir sebagai pengalaman yang dijalani. Jangan sampai anak-anak kita mengenal budaya luar, namun tidak mengenal budaya Kabupaten Sidoarjo sendiri,” tegas Ridho.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berkomitmen untuk terus merangkul kolaborasi lintas pihak guna memperkuat ekosistem kebudayaan lokal. Gamelan diharapkan tidak hanya berhenti sebagai pusaka masa lalu yang dilestarikan, melainkan mampu bertransformasi menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya karya-karya seni baru di tengah dinamika perubahan zaman.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *