
MOJOKERTO , Waskita.news — Lomba Tingkat II Regu Penggalang Gerakan Pramuka Kwartir Ranting (Kwarran) Gedangan Tahun 2026 di Bumi Mulyojati, Dlanggu, Mojokerto, tidak sekadar menjadi ajang perlombaan antar regu. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang pembelajaran di luar kelas untuk mengasah keterampilan, kemandirian, kerja sama, sekaligus mengenalkan peserta didik pada lingkungan dan budaya.
Kegiatan yang diikuti para Pramuka Penggalang ini dirancang dengan memadukan unsur kompetisi dan pendidikan. Peserta tidak hanya dituntut mampu menyelesaikan berbagai tantangan kepramukaan, tetapi juga belajar berinteraksi, mengambil keputusan, menjaga kekompakan, serta bertanggung jawab terhadap tugas dalam regu.
Ketua Panitia Lomba Tingkat II Kwarran Gedangan, Ariyani Purwaningsih, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan karakter yang memberikan pengalaman langsung kepada peserta. (30/9/2026)
Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup hanya diberikan melalui teori di dalam kelas. Anak-anak juga membutuhkan pengalaman nyata agar nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kepemimpinan, gotong royong, dan kemandirian dapat tumbuh melalui proses yang mereka jalani sendiri.
“Dalam kegiatan ini anak-anak tidak hanya mengikuti perlombaan. Mereka belajar bagaimana bekerja sama dalam satu regu, disiplin terhadap waktu dan aturan, bertanggung jawab terhadap tugas, serta menyelesaikan tantangan bersama,” ujar Ariyani.
Ia menjelaskan, pemilihan lokasi kegiatan di Bumi Mulyojati juga memberikan nilai tambah bagi peserta. Lingkungan perkemahan memberikan suasana belajar yang berbeda sekaligus membuka kesempatan bagi peserta untuk mengenal potensi lingkungan dan budaya di sekitar lokasi.
“Anak-anak bisa mendapatkan pengalaman yang berbeda karena belajar langsung di lapangan. Selain keterampilan kepramukaan, mereka juga bisa mendapatkan edukasi tentang lingkungan dan budaya, termasuk mengenal potensi yang ada di kawasan Mojopahit,” jelasnya.
Ariyani menambahkan, pembelajaran melalui kegiatan kepramukaan memiliki keunggulan karena peserta terlibat secara langsung. Mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi mengalami sendiri proses belajar melalui permainan, perlombaan, kerja kelompok, maupun aktivitas selama perkemahan.
Pengalaman tersebut dinilai penting dalam membentuk kemampuan sosial anak. Saat berada dalam satu regu, peserta dituntut berkomunikasi dengan baik, menghargai pendapat teman, membagi tugas, serta mengutamakan kepentingan kelompok.
“Harapannya, nilai-nilai yang mereka dapatkan selama kegiatan ini tidak berhenti di lokasi perkemahan. Setelah kembali ke sekolah dan lingkungan masing-masing, mereka bisa menerapkan kedisiplinan, kemandirian, gotong royong dan tanggung jawab yang sudah dipelajari,” katanya.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kegiatan luar ruang seperti perkemahan juga memiliki peran penting. Peserta didik tetap membutuhkan ruang untuk berinteraksi secara langsung, mengembangkan kreativitas, bergerak aktif, serta membangun kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
Karena itu, Lomba Tingkat II Kwarran Gedangan tidak hanya berorientasi pada pencapaian hasil perlombaan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan nonformal yang memberikan pengalaman nyata bagi peserta didik.
Melalui perpaduan antara keterampilan kepramukaan, pendidikan karakter, interaksi sosial dan pengenalan budaya, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan bekal positif bagi para peserta untuk tumbuh menjadi generasi yang mandiri, disiplin, tangguh, memiliki kepedulian sosial, serta tetap mengenal dan menghargai budaya bangsa.



Tidak ada komentar